Cerita Guru GTT Magetan Punya Bisnis Sampingan Beromzet Jutaan

Cerita Guru GTT Magetan Punya Bisnis Sampingan Beromzet Jutaan

Magetan, Nationaltoday.co.id || Demi menjaga kebutuhan ekonomi seorang Guru Tidak Tetap (GTT) yang mengajar di salah satu Sekolah Madrasah Swasta di Magetan bertekad dengan membuka usaha demi menyambung hidup dan harus berjalan beriringan.

Namanya Eny Luthfiah (44) Tahun sosok ibu yang dilahirkan di sampung Slagreng Sidorejo Kecamatan plaosan Kabupaten Magetan dan memiliki 3 Putra juga berprofesi guru honorer atau GTT di tempat kelahirannya MI Ilyasa Sampung Kecamatan Sidorejo magetan.

Sekitar tahun 2008 dia menjadi guru honorer dan berkedudukan sebagai guru kelas penuh kesabaran untuk mendidik siswa di kelasnya.

“Saya menjadi seorang guru  mengabdi pertama ke Negeri  dengan niat mendidik putra putri di desa kami demi mencerdaskan generasi bangsa, kedua sekolah berupa yayasan ini peninggalan orang tua kami dan inshaallah akan kita kembangkan, ,” tutur Eny saat ditemui di rumahnya.

Gaji Eny menjadi seorang guru dengan status honorer tidaklah besar, Namun demi bakti pada Yayasan dan anak didiknya diapun rela melakoni dengan penuh ketegaran.

Meski demikian, kondisi itu tidak lantas membelenggu kreativitasnya. Sejak awal menjadi seorang guru eny awalnya berjualan penthol Cilok bakso buat sampingan serta jualan makanan kecil demi menyambung hidup untuk mencukupi kebutuhan keluarga, itupun tidak berlangsung lama dikarenakan banyak pedagang yang jualan pakai motor selalu datang saat jam istirahat.

Eny pun tidak putus asa, bermodal kesabaran dan ketangguhan serta ketekadan dirinya mencoba untuk memproduksi makanan jenis Abon berbahan dari ayam pedaging dimulai modal kecil dan menghasilkan beberapa bungkus lalu di edarkan melalui teman sekantornya sebagai bentuk promosi.

Dimulai dari promosi rekan sekantornya eny pun berusaha menawarkan ke beberapa pedagang Sayur keliling atau biasa di sebut Penjual”ethek” keliling dengan menitipkan beberapa bungkus serta dibeberapa pondok pesantren bahkan di komersilkan melalui media sosial.

 

Saat Nationaltoday berkunjung ke tempat produksinya, yang berlokasi di dekat madrasah tempat dia mengajar, sebuah dapur yang dengan luas sekitar kurang lebih 10 meter X 8 meter tempat eny membuat dan memproduksi bersama dengan dua pekerjanya.

Bahan bahan ketika kita temui seperti bumbu bumbu dari rempah yang sudah di haluskan dan beberapa puluh kilogram daging ayam yang siap di proses untuk dijadikan abon.

“Saya awalnya tidak memproduksi  banyak karena masih dalam merintis usaha kecuali ketika ada pesanan puluhan bahkan ratusan kilo abon baru kita lembur dalam sehari yang dibantu 2 pekerja,”ungkapnya.

Seiring berjalannya waktu bisnisnya pun terus berkembang. Bahkan, omzet yang didapat lebih besar dari gajinya sebagai guru. Sebulan rata-rata dia bisa menghasilkan laba bersih sekitar Rp 2-3.5 juta dan itupun tetap disyukurinya.

Pemesanan kata eny kebanyakan dari pondok, penjual sayur keliling, toko toko Bahkan luar daerah belum setiap bulannya ada pesanan dari luar pulau Jawa.

“Awalnya hanya modal 400 Ribu berbekal kesabaran serta keuletan itu  dalam waktu satu bulan sudah balik modal,” jelasnya.

Dengan cara dan langkah seperti itu, Eny mengaku lebih tenang menjadi guru honorer, Sebab jika hanya mengandalkan gaji sebagai guru honorer, jelas tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan ketiga putranya.

“Sampai hari inipun ketika saya berangkat ke sekolah tiap pagi bangun memasak nasi dan membuat sate dari bahan yang tidak kepakai seperti kulit dan usus dan selanjutnya saya jual di sekolahan,” lanjutnya.

Kesuksesannya dalam usaha eny tidak melupakan hak nya yang harus dikeluarkan dengan program wajib seperti seminggu sekali seperti ” Jum’at Berkah” dan di bagikan ke warga yang membutuhkan dan itupun tidak lantas membuatnya meninggalkan profesi sebagai guru.

Sebagai tenaga Guru GTT eny beberapa kali mendaftarkan diri sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kontrak (PPPK) tapi sering gagal atau tidak lolos dalam ujiannua bahkan Sebelumnya, ia sempat mendaftar CPNS sebanyak Namun keberuntungan juga belum berpihak alias gagal.

“Kalau bisa diterima mendaftar PPPK saya ingin membesarkan yayasan peninggalan almarhum ayah saya,” tandasnya.(Sof)

More From Author

Suwata Kadispora Magetan ” GTT Tidak Boleh Merangkap PTT”

*5 Hari Dinyatakan Hilang, TNI AL Temukan Nelayan Banten Terdampar di Tasikmalaya*